Friday, 7 July 2017

This warms my heart

Anakku ranking ke-23 Di dalam kelas
Di kelasnya ada 25 orang murid,setiap kali ujian peperiksaan ,anak perempuanku selalu mendapat ranking ke-23. Akhirnya dia mendapat gelaran nombor itu sebagai panggilan. Sebagai orangtua,kami merasa panggilan ini kurang sesuai didengar,namun peliknya anak kami tidak pernah merasa janggal dengan panggilan ini.

Pada suatu hari kami berkumpul bersama keluarga besar kami di sebuah restoran. Saudara mara pula sedang berbual tentang perkembangan anak masing-masing. Anak-anak pula ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar? Ada yang menjawab jadi doktor,pilot,arkitek ada juga menteri. Semua orang pun bertepuk tangan. Tapi anak perempuan kami terlihat sangat sibuk membantu budak-budak kecil lain yang sedang makan. Hanya anak kami sahaja yang belum ditanya.

Akhirnya anak kami juga dipaksa untuk menyatakan cita-citanya.
“Saat aku sudah dewasa,cita-citaku yang pertama adalah menjadi seorang guru tadika,memandu anak-anak menyanyi,menari lalu bermain-main”.

Saudara mara agak terkejut dengan jawapan nya tapi semua orang tetap memberikan pujian,kemudian menanyakan apa cita-citanya yang kedua.
Dia pun menjawab ,,,
“Saya ingin menjadi seorang ibu,mengenakan kain harian yang bergambar Doraemon dan memasak di dapur,kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke luar rumah untuk melihat bintang di waktu malam.”

Semua saudara mara saling pandang tanpa tahu harus berkata apa. Nampak raut muka isteriku juga agak terkejut sekali.

Apabila kami pulang ke rumah,isteriku mengeluh ke padaku,apakah aku akan membiarkan anak perempuan aku kelak hanya
menjadi seorang guru Tadika? Perbualan inintelah didengar oleh anak ku.

Lalu anakku terus menurut dengan nasihat ku,dia tidak lagi membaca komik,tidak lagi membuat origami,tidak lagi banyak
bermain. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan,dia terus belajar ,buku pelajaran dan buku latihan dibuat terus tanpa henti. Sampai akhirnya tubuh kecilnya tidak lagi bertahan sehingga demam teruk. Akan tetapi hasil ujian semesternya membuat kami ketawa.. tetap juga mendapat nombor 23.

Kami memang sayang sangat pada anak kami ini,namun kami sungguh tidak memahami akan sikapnya di sekolah.

Pada suatu minggu, raka-rakan kelas mengajak pergi ke taman reakrasi. Semuanya ditemani keluarga. Sepanjang perjalanan mereka sangat gembura ,ada rakan yang bernyanyi,ada juga yang memperagakan kebolehannya.

Tetapi anak kami tidak menunjukkan bakatnya dan hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira. Dia seringkali lari ke belakang untuk mengawasi makanan, meletakkan kembali kotak makanan yang senget ,mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap sayuran. Dia sangat sibuk bagaikan seorang pengurus tadika.

Ketika makan,ada satu kejadian tak diduga. Dua orang kanak-kanak lelaki yang satunya pandai math , lagi satu pandai berbahasa Inggris berebut sedang berebut sesuatu. Tetapi tiada seorang pun yang mengalah. Orang tuanya cuba memujuk tetapi tidak berhasil. Tetapi dengan selamba anak kami
berhasil melerainya dengan merayu mereka untuk berdamai.

Ketika pulang, jalan yang kami lalui agak jem. Kanak-kanak mula bising kerana terlalu lama dalam perjalanan. Tetapi anak aku dengan selamaba menggembirakan rakan-rakannya tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti menggunting berbagai bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan. Sampai ketika turun dari bus,setiap orang
ada kertas berbentuk haiwan masing-masing,dan mereka terlihat begitu gembira.

Selepas ujian semester,aku menerima telpon dari guru kelas anakku. Guru memberi tahu anakku masih tetap dapat nombor 23. Namun dia mengatakan ada satu hal yang sangat pelik. Hal yang pertama yang pelik selama lebih dari 30 tahun menjadi guru. Kertas bahasa ada soalan tambahan. Soalannya SIAPA TEMAN SEKELAS YANG PALING KAMU KAGUMI DAN APA ALASANNYA?
Dan jawaban dari semua teman sekelasnya sama,tak ada satu pun yang berbeza. Mereka serentak tulis nama anakku.

Mereka kata anakku sangat senang membantu orang,selalu memberi semangat,selalu
menghibur, mesra berteman,dan banyak lagi.

Si guru kelas memberi pujian ,,,
“Anak ini kalau bertingkah laku terhadap orang,benar-benar nomor satu”.

Aku terus berkata pada anakku
“Suatu hari kamu akan jadi pahlawan”.

Anakku tiba-tiba menjawab ,,,
“guru pernah mengatakan sebuah pepatah,ketika pahlawan lewat,harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Dia lalu melanjutkan ,,,
“Ayah… Aku tidak mau jadi pahlawan. Aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan saja.”

Aku terkejut mendengarnya. Dalam hatiku pun terasa hangat seketika kerana kata-kata anak perempuanku. Di dunia ini banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan,jadi orang-orang hebat,atau orang terkenal. Namun anakku memilih untuk menjadi orang yang tidak ‘terlihat’. Seperti akar sebuah tanaman,tidak terlihat,tapi dialah yang berada dibelaiang sebagai penyokong ,dialah yang memberi makan dan dialah yang memelihara kehidupan yang lain.

~ ~ ~

Sahabatku,,,
Hidup itu bukan semata-mata untuk menunjukan siapa yang paling penting,siapa yang paling berperanan ,atau siapa yang paling hebat,tapi sederhana saja,siapa yang paling bermanfaat bagi yang lain …

Sumber: Winardi Abu Faqeh via awakcute

Thursday, 6 July 2017